Hutan hujan tropis kalimantan. Pesona alam yang dapat membuat candu kini kemana?


Dibelahan dunia yang lain mungkin tidak akan pernah mengetahui rahasia unik ini, karena kerap menjadi suatu musim yang diwaspadai, yaitu kemarau. Kemarau kerap membuat kita kesusahan, berkurangnya pasokan air akan membuat kesulitan yang berkelanjutan. Yah, mungkin kita semua pernah merasakan kesusahan akibat kemarau. Tetapi dibalik musim ini, bagi beberapa kelompok orang pedalaman, atau orang perbatasan, atau orang hulu, atau atau bisa disebut orang paling beruntung yang lahir & hidup di bumi kalimantan, hal tersebut menjadi salah satu momen paling ditunggu. Anak sungai menjadi sangat jernih dan surut, sehingga kehidupan ikan-ikan didalamnya terlihat dengan sangat jelas. 

Kebiasaan yang dilakukan ketika musim seperti ini tentu saja "camping and healing" bersama keluarga di tempat anak sungai yang banyak ikannya. Pengalaman menangkap ikan menggunakan pancing, jala, pukat atau menyelam membuat kita kecanduan. Apa lagi sensasi cita rasa ikan yang langsung dipanggang dipinggir sungai tersebut dibawah kemah, sangatlah enak. 

Ketika musim berganti pengalaman seperti ini akan terus menjadi perbincangan yang tak habis-habisnya. Semakin besar ukuran ikan yang di dapat, maka semakin besar pula ukurannya masuk dalam narasi cerita. Akan terjadi adu cerita pengalaman seru yang intinya kita tidak boleh kalah cerita dengan yang lainnya. 

Lalu ketika musim kemarau selanjutnya tiba, kembali kita akan berlomba-lomba mencari anak sungai yang menampung banyak ikan untuk menambah referensi cerita seru dalam pertandingan cerita kita kemudian. 

Sayangnya saat ini semakin sulit mendapatkan pengalaman seperti itu karena marak penangkapan ikan yang dilakukan dengan cara "serakah" yaitu Setrum (Menggunakan aliran listrik yang dimasukan ke dalam air, sehingga ikan - termasuk udang, siput, kodok dan jenis lain yang hidup di air tawar -  yang ada disekitarnya akan terkena setrum lalu pingsan/mati) yang akibatnya akan memusnahkan semua biota sungai yang ada. 

Andai kita dapat memahami mengapa kehidupan tersebut tetap eksis sampai sekarang, masihkah kita mau menggunakan cara tersebut? Bayangkan anak ikan bahkan telur-telur ikan yang akan tumbuh besar dalam kurun waktu tertentu lalu kembali berkembang biak untuk menghasilkan telur-telur ikan lainnya juga ikut tersapu mati oleh setrum sengatan listrik, tidakkah kehidupannya akan punah? Musnah? Habis? Sirklus perkembang biakannya terpotong, dihancurkan pada tahap paling lemah karena anak ikan belum mahir lari bersembunyi ketika ada bahaya, lebih-lebih telur ikan. 

Apakah anak ikan serta telur-telurnya turut di ambil ketika menggunakan setrum? Sedikitnya mungkin iya, tapi sebagian besar tentu tidak. Buat apa mengumpulkan telur ikan padahal banyak ikan yang besar bukan? Sangat disayangkan. 

Lebih parahnya lagi ada yang menggunakan racun untuk meracuni ikan-ikan tersebut. Pada tahap ini bukan lagi mendapat daging ikan segar, bukan lagi dapat cerita seru bisa bergulat dengan ikan Pelian besar seperti cerita sebelumnya, sebaliknya malah dapat daging ikan yang sudah mati teracuni dan mengumpulkan apungan-apungan ikan mati tersebut. 

Kisah menangkap ikan yang tadinya dengan bangga kita  ceritakan kepada semua orang kini tidak lagi ada, yang ada hanyalah keluhan kapan bisa seperti dulu lagi. Oleh sebab itu penulis mengajak kita semua terutama generasi muda anak sungai pedalaman, kita jaga dan pelihara kehidupan yang harmonis dengan alam agar kelak anak dan cucu kita tidak hanya mendengar ceritanya saja. 

Tulisan ini tidak bermaksud untuk melarang penangkapan ikan dan lain sebagainya, yang lebih ditekankan adalah pada caranya. Bukankah dalam alkitab Tuhan menjadikan kita manusia untuk berkuasa atas segala binatang yang ada di bumi? Benar. Tetapi jangan sampai salah mengartikan menguasai itu dengan semena-mena dan dapat dimusnahkan kapan saja.

Mari kita rawat dan pelihara alam Kalimantan. Salam dari hulu kepada dunia

Apui

Blog ini berisikan artikel-artikel pendek dan tulisan tentang berbagai masalah lingkungan, sosial, budaya maupun politik.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama